Jumat, 16 Oktober 2009

Catatan Jalanan anak Negeri

Pesta demokrasi dari Pileg sampai Pilpres telah usai, masyarakat kembali pada kehidupan semula, pembicaraan di warung-warung kopi, dipinggir-pinggir jalan sudah tak terdengar lagi, kini semua terfokus pada segelintir elite yang masih sibuk melakukan lobi-lobi politik guna menempatkan kader-kadernya ke dalam lembaga-lembaga Negara baik di legislative maupun eksekutif, mereka yang dulu mengambil sikap berseberangan dengan SBY dalam Pilpres kini melunak dan ada yang berbalik mendukung presiden terpilih itu, situasi ini tentu dimanfaatkan oleh SBY guna stabilitas pemerintahan 5 th mendatang dengan mendukung salah satu kader PDIP untuk menduduki posisi sebagai ketua MPR, dukungan ini tentunya ada konsesi-konsesi politik tertentu.
Golkar tidak mau kalah dengan PDIP. Dalam Munas Golkar di Pekanbaru beberapa waktu lalu, ketua umum terpilih Aburizal Bakrie dengan tegas mengatakan Golkar akan menjadi mitra bagi pemerintahan yang akan datang, maka tidak heran jika kemudian Golkar juga akan menempatkan kader di kabinet SBY yang akan datang. Posisi Gerindera dan Hanura kurang signifikan dalam Parlement sehingga bisa di prediksi mereka akan menunggu tanpa mengambil sikap apapun.
Mereka yang dulu berlawanan secara politik dengan SBY, dengan jargon-jargon kampanyenya misalnya ekonomi kerakyatan, anti neoliberalisme dsb itu berfikiran pragmatis dengan mengorbankan program-programnya dengan dalih untuk kepentingan bangsa dan Negara, kini mereka hidup dalam satu komando sang jenderal. Kiranya seperti banyak pengamat mengatakan inilah satu-satunya Negara demokrasi yang mendapat dukungan 90% kursi di parlement. Pandangan seperti ini mirip bagaikan film2 action di bioskop-bioskop maupun di televise, aktornya Cuma satu, dua orang selebihnya mereka akan mati di tumpas oleh sang actor. Kita tidak bisa mengharapkan lagi parlement untuk mengontrol pemerintahan, semua akan berjalan mulus tanpa kerikil-kerikil yang akan menghalangi hingga 5 th ke depan.
Kekuatan Parlement sudah dilumpuhkan oleh sang jenderal, masih adakah harapan bagi rakyat pada ibu pertiwi ini, sementara element-element masyarakat yang selama ini mampu membawa titik awal perubahan bangsa ini juga tak berdaya yaitu:

1. Mahasiswa dan pemuda

Sejarah bangsa ini telah menorehkan tinta emas terhadap pemuda dan mahasiswa, sebagai agen pembaharuan negeri ini, disaat para elite di parlement terhegemoni oleh kekuasaan, mereka selalu tampil jadi garda terdepan dalam melawan otoritarianisme kekuasaan, apa yang bisa kita harapkan dari mahasiswa sekarang, jika kita menyaksikan di televise maupun Koran yang ada hanya tawuran antar mahasiswa, pesta miras dan narkoba, tontonannya pun sinetron-sinetron dan film-film romantis yang sadar atau tidak telah membius mereka, sebagian mereka ada yang mengikuti audisi-audis untuk menjadi bintang di televise. Kondisi ini adalah realitas sekarang. Realitas ini ditengarahi sebagai formulasi konvensional atas keterjangkitan idealisme mahasiswa yang mengalami dekadensi, realitas kesakitan yang dialami mahasiswa, realitas yang membutuhkan titik kesadaran awal untuk melakukan akselerasi atas idealisme mahasiswa

2. Eks Aktifis MAhasiswa ‘98

Mereka adalah para mahasiswa yang turun ke jalan untuk menumbangkan kediktatoran orde baru, ternyata mereka juga sama dengan para seniornya -para mantan aktifis mahasiswa sebelumnya-. Mereka berbondong-bondong masuk ke partai-partai politik, LSM pendukung kepentingan kekuasaan, teriakan revolusi yang dulu mereka teriakan kini telah terselimuti oleh jas mewah dengan menjadi anggota DPR, menjadi Tim sukses, yang pada akhirnya nanti akan mengetuk pintu kekuasaan untuk mendapatkan bagian dari kekuasaan tersebut. Mereka yang dulu di culik, di tembaki, dipukul, kini melebur jadi satu dengan orang yang menculik, menembaki, serta memukuli mereka dalam satu partai politik, ormas sekaligus bersatu dalama lingkaran kekuasaan. Adapula yang masih bertahan dengan ideology kerakyatannya, akan tetapi mereka tidak mampu mempertahankan keutuhan dalam menghadapi panggung politik yang bernama Pemilu

3. Gerakan Buruh

Dalam sejarah bangsa ini, gerakan buruh telah mengalami kemajuan yang cukup signisikan, meski belum ada gerakan buruh yang mampu menumbangkan kediktatoran di negeri ini, namun beberapa aktifitas gerakan buruh sudah mengarah ke hal-hal yang bersifat politis. Misalnya ada beberapa organisasi buruh yang terlibat dalam pendirian partai politik yang didasarkan pada kesadaran bahwa untuk mensejahterakan buruh harus merebut kekuasaan, atau dalam tahapan demokartisasi bisa bercermin dalam kasus Korea selatan, dimana mayoritas buruh disana melakukan pemogokan massal yang menuntut kesejahteraan mereka beberapa tahun lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar