Senin, 07 Desember 2009

Dan Punggawa-punggawa itupun Terhanyut

5 Th Pemerintahan SBY - JK, sepertinya tenang, semua terkendali di bawah sang Jenderal. Bagaikan air mengalir dengan tenang tapi ternyata menyimpan kubangan air yang setiap saat mampu menghanyutkan para pungawa-punggawa negeri ini.

Berawal dari kasus pembunuhan Nazrudin Zulkarnain yang melibatkan Pungawa KPK Antarasari Azhar yang kemudian Polisi menemukan rekaman antara Antasari dengan Anggodo yang mengatakan bahwa sejumlah Pungawa KPK menerima suap darinya. mulailah babak baru perselisihan Polisi, Kejaksaan VS KPK. Rekaman hasil sadapan KPK terhadap pembicaraan Anggoro kepada sejumlah punggawa Polri dan Kejaksaan mampu membuat masayarakat luas sakit hati dan bersimpati terhadap Pungawa-pungawa KPK. babak ini pun menghayutkan pungawa Polri Susno Djuadji dan Pungawa Kejaksaan AH Ritonga yang dicopot dari jabatannya.

Bak Rantai yang saling bersambung, kasus Bank Century ada benang merah dengan kasus pereteruan KPK, Polri dan Kejaksaan. siapa yang bakal terhanyut dalam babak ini? mengingat beberapa pungawa negeri telah disebut2 menerima aliran dana Bank century

Jumat, 16 Oktober 2009

Catatan Jalanan anak Negeri

Pesta demokrasi dari Pileg sampai Pilpres telah usai, masyarakat kembali pada kehidupan semula, pembicaraan di warung-warung kopi, dipinggir-pinggir jalan sudah tak terdengar lagi, kini semua terfokus pada segelintir elite yang masih sibuk melakukan lobi-lobi politik guna menempatkan kader-kadernya ke dalam lembaga-lembaga Negara baik di legislative maupun eksekutif, mereka yang dulu mengambil sikap berseberangan dengan SBY dalam Pilpres kini melunak dan ada yang berbalik mendukung presiden terpilih itu, situasi ini tentu dimanfaatkan oleh SBY guna stabilitas pemerintahan 5 th mendatang dengan mendukung salah satu kader PDIP untuk menduduki posisi sebagai ketua MPR, dukungan ini tentunya ada konsesi-konsesi politik tertentu.
Golkar tidak mau kalah dengan PDIP. Dalam Munas Golkar di Pekanbaru beberapa waktu lalu, ketua umum terpilih Aburizal Bakrie dengan tegas mengatakan Golkar akan menjadi mitra bagi pemerintahan yang akan datang, maka tidak heran jika kemudian Golkar juga akan menempatkan kader di kabinet SBY yang akan datang. Posisi Gerindera dan Hanura kurang signifikan dalam Parlement sehingga bisa di prediksi mereka akan menunggu tanpa mengambil sikap apapun.
Mereka yang dulu berlawanan secara politik dengan SBY, dengan jargon-jargon kampanyenya misalnya ekonomi kerakyatan, anti neoliberalisme dsb itu berfikiran pragmatis dengan mengorbankan program-programnya dengan dalih untuk kepentingan bangsa dan Negara, kini mereka hidup dalam satu komando sang jenderal. Kiranya seperti banyak pengamat mengatakan inilah satu-satunya Negara demokrasi yang mendapat dukungan 90% kursi di parlement. Pandangan seperti ini mirip bagaikan film2 action di bioskop-bioskop maupun di televise, aktornya Cuma satu, dua orang selebihnya mereka akan mati di tumpas oleh sang actor. Kita tidak bisa mengharapkan lagi parlement untuk mengontrol pemerintahan, semua akan berjalan mulus tanpa kerikil-kerikil yang akan menghalangi hingga 5 th ke depan.
Kekuatan Parlement sudah dilumpuhkan oleh sang jenderal, masih adakah harapan bagi rakyat pada ibu pertiwi ini, sementara element-element masyarakat yang selama ini mampu membawa titik awal perubahan bangsa ini juga tak berdaya yaitu:

1. Mahasiswa dan pemuda

Sejarah bangsa ini telah menorehkan tinta emas terhadap pemuda dan mahasiswa, sebagai agen pembaharuan negeri ini, disaat para elite di parlement terhegemoni oleh kekuasaan, mereka selalu tampil jadi garda terdepan dalam melawan otoritarianisme kekuasaan, apa yang bisa kita harapkan dari mahasiswa sekarang, jika kita menyaksikan di televise maupun Koran yang ada hanya tawuran antar mahasiswa, pesta miras dan narkoba, tontonannya pun sinetron-sinetron dan film-film romantis yang sadar atau tidak telah membius mereka, sebagian mereka ada yang mengikuti audisi-audis untuk menjadi bintang di televise. Kondisi ini adalah realitas sekarang. Realitas ini ditengarahi sebagai formulasi konvensional atas keterjangkitan idealisme mahasiswa yang mengalami dekadensi, realitas kesakitan yang dialami mahasiswa, realitas yang membutuhkan titik kesadaran awal untuk melakukan akselerasi atas idealisme mahasiswa

2. Eks Aktifis MAhasiswa ‘98

Mereka adalah para mahasiswa yang turun ke jalan untuk menumbangkan kediktatoran orde baru, ternyata mereka juga sama dengan para seniornya -para mantan aktifis mahasiswa sebelumnya-. Mereka berbondong-bondong masuk ke partai-partai politik, LSM pendukung kepentingan kekuasaan, teriakan revolusi yang dulu mereka teriakan kini telah terselimuti oleh jas mewah dengan menjadi anggota DPR, menjadi Tim sukses, yang pada akhirnya nanti akan mengetuk pintu kekuasaan untuk mendapatkan bagian dari kekuasaan tersebut. Mereka yang dulu di culik, di tembaki, dipukul, kini melebur jadi satu dengan orang yang menculik, menembaki, serta memukuli mereka dalam satu partai politik, ormas sekaligus bersatu dalama lingkaran kekuasaan. Adapula yang masih bertahan dengan ideology kerakyatannya, akan tetapi mereka tidak mampu mempertahankan keutuhan dalam menghadapi panggung politik yang bernama Pemilu

3. Gerakan Buruh

Dalam sejarah bangsa ini, gerakan buruh telah mengalami kemajuan yang cukup signisikan, meski belum ada gerakan buruh yang mampu menumbangkan kediktatoran di negeri ini, namun beberapa aktifitas gerakan buruh sudah mengarah ke hal-hal yang bersifat politis. Misalnya ada beberapa organisasi buruh yang terlibat dalam pendirian partai politik yang didasarkan pada kesadaran bahwa untuk mensejahterakan buruh harus merebut kekuasaan, atau dalam tahapan demokartisasi bisa bercermin dalam kasus Korea selatan, dimana mayoritas buruh disana melakukan pemogokan massal yang menuntut kesejahteraan mereka beberapa tahun lalu.

Senin, 31 Agustus 2009

TERORISME: GEJALA SOSIAL ATAU ANCAMAN NEOLIBERALISME?

Oleh Shohibul Badri

“Banyak orang berpendapat perang antara komunisme dengan barat akan segera digantikan oleh perang antara barat dengan muslim” William PFAFF, The New Yorker, 28 Januari 1991.

Teroris pada akhir-akhir ini menjadi momok yang sangat menakutkan dan bisa datang kapan saja, disamping militansi para pelaku, juga kepiawaian mereka dalam segala hal, polisi pun mampu dikecohnya, seperti kasus di temanggung yang hanya mampu menewaskan Ibrohim. Dalam beberapa tayangan video dan sasaran bom, jelas mereka tidak semata-semata menyerang dengan membabi buta. Sasaran mereka adalah hal-hal yang berhubungan dengan Amerika, Australia dan sekutu-sekutunya yang dikenal dengan Negara-negara neoliberal.

Stigma teroris yang dilekatkan pada Noordin M TOP dan kawan-kawannya tidak lebih dari upaya Amerika dan sekutu-sekutunya untuk terus menancapkan pengaruhnya di seluruh dunia, termasuk Indonesia. (Tulisan ini tidak bermaksud membela atau membenarkan tindakan-tindakan mereka yang telah mengorbankan jiwa orang-orang yang tidak bersalah). Saya lebih sepakat disebut sebagi “fundamentalisme Islam”, karena “Fundamentalisme Islam” seringkali dianggap sebagai ancaman terbesar bagi kepentingan-kepentingan barat di dunia islam yang lebih luas, serta sering disejajarkan dengan aktifitas politik, ekstremisme, fanatisme, terorisme dan anti Amerikanisme, walaupun sebagian terlibat dalam relegio-politik radikal. Pasca runtuhnya komunisme, tidak ada lagi kekuatan yang menjadi balance bagi kekuatan kapitalisme barat. Jika para pemimpin barat berusaha membentuk tata dunia baru (pasca perang dingin), islam fundamentalism semakin dianggap sebagai musuh monolitik global barat yang baru. Para pembuat kebijakan Amerika, seperti media massa juga kerap ternyata sangat picik, memandang dunia islam dan gerakan-gerakannya sebagai monolitik dan semata-mata dalam istilah ekstremisme dan terorisme. Stigma islam teroris yang di lekatkan barat ini sudah ada sejak tahun 1970-an, Revolusi Iran di bawah pimpinan khumeini sangat mengecam dan mengutuk barat, Qaddafi di Libya, munculnya gerakan-gerakan islam diberbagai Negara sering kali bersitegang dengan komunitas internasional dan dianggap sebagai Negara teroris yang radikal. Sampai pada puncaknya pasca serangan 11 September yang membangkitkan semangat untuk memberangus kekuatan islam radikal yang berujung pada invasi AS ke Saddam Husein di Iraq dan Osama Bin Laden di Afghanistan, karena kedua Negara ini menjadi symbol Negara islam yang menentang barat.

Perlawanan di Irak terjadi tak kurang tiga puluh kejadian setiap hari. Intensifnya perlawanan pejuang militan di Irak terhadap okupasi AS selama beberapa bulan terakhir ini, oleh berbagai pejabat AS dinyatakan sebagai ‘perang sipil’, yang baru memanas antara milisi syiah dan pemberontak sunni. bahwa 74% rakyat Syiah dan 91% Sunni menginginkan semua pasukan AS meninggalkan negeri mereka dalam satu tahun. Perlawanan di Afganishtan. NATO sedang putus asa menangani penambahan pasukan seiring dengan kegagalan mereka menangani berbagai pemberontakan di bagian selatan dan tenggara negeri itu. Kemarahan rakyat juga berkisar seputar dana dan pembangunan infrastruktur yang dijanjikan gagal diwujudkan, termasuk meluasnya korupsi dan represifitas para pimpinan militer dan tuan-tuan tanah (pemilik perkebunan obat-obatan/cocaine) yang sebagian besar bekerjasama dengan menjadi boneka AS. Ditambah lagi mobilisasi besar-besaran rakyat Iran melawan ancaman blokade AS terhadap program nuklir mereka, bahkan, dukungan terhadap program nuklir (untuk perdamaian) mengalir dari mayoritas negeri anggota non-Blok pasca KTT di Havana, termasuk dua anggota dewan keamanan PBB Rusia dan China. Kampanye AS melawan program nuklir Iran adalah kemunafikan AS yang berikutnya. AS malah menjual teknologi nuklirnya kepada negeri-negeri yang belum menandatangani Nuclear Non-Proliferation Treaty—seperti India, Pakistan dan Israel

Dalam konteks di Indonesia pasca Bom bunuh diri yang terjadi 17 juli 2009 di Hotel JW Marriot dan Ritz Chalton, polisi dengan cepat dapat mengindentifikasi pelaku-pelaku serta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Disatu sisi kita beri apresiasi buat Densus 88 yang bekerja keras dalam mengungkap kejadian tersebut, terlebih lagi penggagalan serangan bom yang rencananya akan diledakkan di kediaman pribadi SBY, jika polisi mampu mengantisipasi dan menggagalkan serangan bom ke kediaman pribadi presiden, pertanyaannya sederhana kenapa polisi tidak mampu menggagalkan bom di JW Marriot dan Ritz Chalton?. Di sisi lain kenapa selalu ada korban salah tangkap terhadap orang-orang yang tidak terlibat, meskipun pada akhirnya dibebaskan dan di beri rehabilitasi nama baik, hal itu menunjukkan kurang profesionalnya polisi dalam bekerja, ditambah lagi upaya pengawasan terhadap dakwah-dakwah islam, penghakiman terhadap perempuan bercadar dan pria berjenggot, singkatnya vonis terhadap aliran islam tertentu sebagai sarang teroris.

Apakah gerakan teroris ini merupakan gejala sosial dan politik atau ancaman bagi Neoliberalism? Jika kita lihat latar belakang kelas mereka (para pelaku bom bunuh diri) sangat jelas menunjukkan bahwa tindakan kekerasan aktual atas nama Islam bukanlah konsekwensi langsung dari doktrin-doktrin keagamaan radikal, namun lebih disebabkan oleh faktor sosial yang dapat memberi kecenderungan orang-orang tertentu untuk mengambil sikap militan. Beberapa faktor sosial yang relevan dapat ditemukan dengan menggunakan pendekatan sosiologis –misalnya latar belakang kelas mereka (kelas menengah mereka), ambruknya keluarga tradisional, sebagai akibat proses transisi menuju masyarakat industrial, dan mobilitas yang meningkat serta masuknya banyak perempuan ke lapangan kerja, juga merupakan faktor penting yang menyebabkan adanya kerinduan nostalgik akan nilai-nilai keluarga dan mendorong usaha-usaha militan untuk memberlakukannya kembali.

Pada tahun 1980 dan 1982 Saad Eddin Ibrahim di American University of Cairo telah melakukan penelitian terhadap munculnya gerakan-gerakan radikal yang mengatasnamakan agama bahwa ”Profil sosial kaum militan islam ini sangat serupa dengan mereka yang bergabung dalam gerakan kiri radikal” Polarisasi ekonomi yang terpusat pada segelintir orang di era Neoliberalisme seperrti ini adalah salah satu faktor yang menyebabkan munculnya gerakan-gerakan yang menempuh cara-cara kekerasan dengan Islam sebagai legitimasinya. Kekerasan itu juga dilakukan di negara-negara yang menjadi boneka negara-negara Neoliberalisme. Dari sini dapat dianalisis sebagai gerakan protes politik yang memilih wacana islam dalam menyuarakan sebuah protes yang pada dasarnya bersifat politik. Karena tindakan mereka di Indonesia disebabkan mereka juga menilai kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan SBY sangat menguntungkan AS dan sekutu-sekutunya. Pemerintahan SBY tak mampu menahan laju serangan neoliberalisme, penjualan blok-blok tambang, privatisasi perusahan-perusahan negara, sistem out-shoursing, penguasaan pasar dll terus berjalan. Begitu juga dengan jeratan hutang luar negeri yang terus menggrogoti keuangan negara lancar keluar dari APBN. neoliberalisme betul-betul mendapatkan kebutuhan-kebutuhan pokoknya di negeri ini. Sentimen anti neoliberalisme (terutama Amerika) sudah semakin kuat, meskipun solusi yang mereka berikan bukan berdasarkan kesadaran programatik, tetapi sentimen keagamaan dan memiliki garis politik anti parlemen dalam perjuangannya

Dalam sejarah Gereja di dunia barat, sekte-sekte radikal sering berfungsi sebagai hati nurani ummat, dan hal demikian juga dapat dilihat dalam umat Islam. Gerakan teroris dengan berbagai macam alasan mereka dalam melakukan tindakan-tindakan kekerasan mendorong ortodoksi untuk setiap saat memikirkan kembali relevansi ajaran agama dalam masyarakat kontemporer dan untuk mencari jawaban atas masalah dan tantangan baru yang terus bermunculan dan tentunya tanpa jalan kekerasan.