Kamis, 10 Juni 2010

Pemimpin

Terasa sekali pada saat ini bahwa tdk ada kepemimpinan baik secara nasional, daerah maupun kepemimpinan ummat yang menonjol yang sanggup memberikan inspirasi dan sanggup membakar semangat generasi muda, menjadi penerang di kala kegelapan dan menjadi petunjuk di tengah2 badai. Tak mengherankan jika generasi muda merasakan adanya kekosongon, hanya merasakan irama datar yang tak menimbulkan rangsangan dan kegairahan sama sekali.

Soekarno adalah salah satu contoh pemimpin yang mampu membakar semangat rakyat termasuk generasi muda. Dimana kekuatan rakyat dipusatkan untuk melawan penjajahan atau mendobrak sesuatu yang dianggap musuh bersama. Soekarno lebih tertarik pad aide-ide dasar yang diolah menjadi isu politik yang membakar semangat rakyat, ketimbang mengurusi soal-soal kecil seperti peningkatan produksi, pertumbuhan penduduk, kenaikan pendapatan dan hal-hal sepele lainnya. Model kepemimpinan seperti ini menurut Gus Dur disebut sebagai kepemimpinan “pencipta kesadaran”.

Pola kepemimpinan masa sekarang cenderung kepemimpinan administrative yang tidak begitu tertarik dengan isu-isu hangat, kepemimpinan sekarang lebih cenderung hanya untuk proyeksi-proyeksi masa depan yang dapat di hitung secara matematis dan diyakini akan mampu membawa ke jenjang yang lebih prestisius semisal dengan menjadi calon Bupati, Walikota, Gubernur dan sebagainya, ditambah lagi dengan dukungan financial yang mereka miliki. Kepemimpinan seperti ini merasa tidak perlu membakar semangat rakyat utnuk mencapai tujuan tertentu, cukup setiap anggotanya menjalankan kewajibannya dengan baik. Tentu model kepemimpinan seperti ini sangat terasa hambar bagi kelompok yang krestif dan mematikan bagi kelompok yang dinamis. Seolah-olah setiap orang (bahkan orang bodoh sekalipun) mampu menjadi pemimpin dengan bantuan rencana tehnis dan taktis yang di buat oleh para pembantunya yang disebut teknokrat. Tehnokrasi yg di dukung oleh kepatuhan hirarki dari sisa-sisa feodalisme menghasilkan hilangnya kegairahan generasi muda, karna pada sisem tehnokrasi tekanan di berikan pada penciptaan dan pengembangan cara kerja bersama dalam sebuah program umum, dengan kata lain penumbuhan semangat main bersama. Lebih ironis lagi para pemimpin-pemimpin muda kita terjebak dalam pola kepemimpinan seperti ini.

Mungkinkah Negara di desain sedemikian rupa hanya untuk menciptakan model kepemimpinan seperti ini? Apalagi jika kita lihat di tingkatan pemimpin-pemimpin daerah seperti Bupati, Walikota, Gubernur, maupun pemimpin-pemimpin ormas, LSM, partai politik sejak tahun 90 an hingga sekarang belum mampu melahirkan sosok kepemimpinan “pencipta kesadaran”. Semua kekuatan-kekuatan ormas, tokoh masyarakat maupun partai politik mudah di moderasi oleh kekuatan Negara dan koorporasi, meski ada situasi perlawanan di tengah-tengah masyarakat. Sikap Negara dari pusat hinggga daerah-daerah terlihat setengah hati dalam menyelesaikan masalah, ketika terjadi konflik antara masyarakat dengan koorporasi. Negara yang seharusnya membela kepentingan rakyat malah sering hanya menjadi mediator. Hal ini yang disebut oleh Boni Hargens sebagai perzinaan politik antara Negara dan koorporasi.

Harapan kita tentu dalam pilkada yang akan dating mampu melahirkan sosok pemimpin “pencipta kesadaran” bukan pemimpin yang lahir dari sebuah perzinaan politik yang selama ini terjadi.