Rabu, 06 April 2011

Kelas-kelas Dlm Masyarakat Indonesia

Di dalam masyarakat Indonesia terdapat berbagai macam klas dan pembagiannya. Klas-klas itu mempunyai ciri-ciri yang berbeda sesuai dengan kepentingan dan wataknya masing-masing.

Mengetahui klas-klas, pembagiannya di dalam masyarakat, ciri-cirinya, kepentingan dan wataknya yang berbeda-beda dari masing-masing klas itu sangat penting. Sebab dengan begitu perjuangan revolusioner rakyat akan bisa mengetahui dan menempatkan klas-klas mana yang menjadi kekuatan revolusi, sekutu revolusi dan musuh revolusi. Selanjutnya bisa menentukan sikap terhadap klas-klas tersebut dalam perjuangan revolusioner rakyat, yaitu:

a. klas-klas kekuatan revolusi harus dikembangkan

b. klas-klas sekutu revolusi perlu ditarik

c. klas-klas musuh revolusi harus dipukul dan dihancurkan.

I. KLAS-KLAS DAN PEMBAGIAN KLAS DI DESA

1. Tuan-tanah

Tuan-tanah adalah pemilik atau penguasa tanah sebagai alat penghisap dan lepas dari proses produksi. Hidup pokoknya dari penghisapan tanahnya atas orang lain dan penghasilannya sangat melebihi keperluan hidupnya.

Tuan-tanah berkepentingan untuk mempertahankan penghisapannya, mempertahankan pemilikan atau pengusaannya atas tanah sebagai alat penghisap, satu atau bersekutu dengan klas penghisap penindas, dan bekerja sama dengan klas-klas parasit atau rnenggunakan klas-klas parasit itu.

Tuan-tanah berwatak anti-rakyat dan anti demokrasi

2. Tani-kaya

Tani-kaya adalah pemilik atau penguasa tanah sebagai sumber hidup dan alat penghisap, ikut dalam proses produksi dan mempunyai tenaga buruh (buruh-lani). Hidup pokoknya dari penghisapan atas buruh-tani disamping tenaganya sendiri atau/dan keluarga. Penghasilannya lebih dari keperluan hidupnya sekeluarga.

Tani-kaya berkepentingan untuk mempertahankan pemilikan atau penguasaannya atas tanah sebagai sumber hidup dan alat penghisap, mempertahankan penghisapannya atas buruh-tani, dan dekat dengan klas penguasa.

Tani-kaya benvatak bimbana

3. Tani-sedang

Tani-sedang lerdiri dari tiga lapisan. yaitu: tani-sedang lapisan atas, tani-sedang lapisan tengah dan tani-sedang Iapisan bawah.

Tani-sedang mempunyai ciri umum pokok, yaitu: sebagai pemilik atau penguasa tanah sebagai sumber hidupnya dan langsung dalam proses produksi.

Mereka berkepentingan meinpertahankan pemilikan atau penguasaannya atas lanah sebagai sumber hidupnya dan melawan penghisapan serta penindasan.

Tani-sedang berwatak demokratis dan pro-rakvat

Adapun perbedaan di antara mereka tani-sedang lapisan atas, tengah dan bawah, ialah:

a. Tani sedang Iapisan atas

Tani-sedang Iapisan atas adalah pemilik atau penguasa tanah sebagai sumber hidupnya dan Iangsung dalam proses produksi. Hidup pokoknya dari kerja tanahnya sendiri disamping kadang-kadang dari tenaga buruh (buruh-tani). Penghasilannya mempunyai kelebihan dari keperluan hidupnya sekeluarga.

b. Tani-sedang Iapisan tengah

Tani sedang lapisan tengah adalah pemilik atau penguasa tanah sebagai sumber hidupnya dan langsung dalam proses produksi. Hidup pokoknya dari kerja tanahnya sendiri. Penghasilannya cukup untuk keperluan hidupnya sekeluarga.

c. Tani-sedang lapisan bawah

Tani-sedang lapisan bawah adalah pemilik atau penguasa tanah sebagai sumber hidupnya dan langsung dalam proses produksi. Hidup pokoknya dari kerja tanahnya sendiri di samping kadang-kadang kerja di atas tanah orang lain sebagai buruh-tani untuk bisa menutupi kekurangan keperluan hidupnya sekeluarga. Penghasilannya atau hasil tanahnya tidak lebih, atau/dan bahkan kadang-kadang kurang dari keperluan hidupnya sekeluarga.

4. Tani-miskin

Tani-miskin adalah pemilik atau penguasa tanah kecil sebagai sumber hidupnya dan langsung dalam proses produksi. Hidup pokoknya dari hasil kerja tanahnya sendiri di samping kerja di atas tanah orang lain sebagai buruh-tani. Penghasilannya atau hasil tanahnya tidak cukup unluk keperluan hidupnya sekeluarga.

Tani-miskin berkepentingan untuk memiliki tanah garapan tambahan sehingga hasilnya cukup untuk keperluan hidupnya sekeluarga, dan melawan penindasan serta penghisapan.

Tani-miskin berwatak anti penindasan dan penghisapan. teguh dan setia pada

demokrasi dan perjuangan rakvat.

Mereka adalah rakyat dan satu dengan rakyat.

5. Buruh-tani

Buruh-tani adalah tani tak bertanah, tidak memiliki atau menguasai tanah sebagai sumber hidupnya, dan langsung dalam proses produksi. Hidup pokoknya dari kerja di atas tanah orang lain sebagai buruh-tani. Penghasilannya atau hasil upahnya sangat jauh tidak cukup untuk keperluan hidupnya sekeluarga.

Buruh-tani berkepentingan untuk mendapatkan tanah garapan yang cukup hasilnya untuk keperluan hidupnya sekeluarga, dan melawan penindasan serta penghisapan.

Buruh-tani berwatak anti penindasan dan penghisapan. teguh setia dan konsekwen pada demokrasi serta perjuanuan rakyat.

Mereka adalah rakyat dan satu dengan rakyat.

Di samping klas-klas tersebut, di desa juga terdapat klas-klas penindas dan klas-klas parasit.

Klas penindas di Desa:

1. Penguasa desa

Penguasa desa adalah alat kekuasaan desa, aparat basis pemerintahan. Hidup pokoknya dari kedudukannya sebagai alat kekuasaan pemerintah.

Penguasa desa berkepentingan untuk mempertahankan kedudukannya sebagai alat kekuasaan pemerintah yang menindas rakyat.

Penguasa desa berwatak menindas rakyat. anti demokrasi dan anti rakyat.

2. Bandit desa

Bandit desa adalah alat penindas atau tukang pukul dan pengaman dari penguasa atau/serta parasit (tuan-tanah, dll). Hidup pokoknya dari upah atau jaminan hidup yang diterima dari mereka yang memperalatnya.

Bandit desa berkepentingan untuk memelihara kedudukannya sebagai bandit desa

yang menindas rakyat.

Bandit desa berwatak menindas rakvat. anti demokrasi dan anti rakyat.

Klas-klas parasit di desa:

1. Lintah-darat

Lintah-darat adalah mereka yang membungakan uang, menggadai (menerima gadaian) barang, dsb. Hidup pokoknya dari menghisap bunga uang, bunga gadai dan sebagainya dari rakyat. Lintah-darat berkepentingan memelihara, mempertahankan dan mengembangkan penghisapannya atas rakyat.

Lintah-darat berwatak menghisap rakyat. anti demokrasi dan anti rakvat.

2. Tukang ijon

Tukang ijon adalah mereka yang membeli di muka atau membeli hasil tanaman yang jarak waktunya masih jauh sebelum atau sudah dekat tanaman itu akan berbuah dengan harga yang sangat rendah atau jauh di bawah harga buah yang sudah masak dan dipetik. Hidup pokoknya dari hasil-meng-ijo-nya dari rakyat.

Tukang ijo berkepentingan memelihara, mempertahankan dan mengembangkan penghisapan peng-ijo-annya.

Tukang ijo berwatak menghisap rakyat. anti demokrasi dan anti rakyat.

3. Tengkulak

Tengkulak adalah pedagang-^pembeli nwnopoli". Hidup pokoknya dan hasil dagang-"beli monopoli"-nya yang mersghisap rakyat.

Tengkulak berkepentingan mcmdihara, meinpertahankan dan mengembangkan dagang mem-"beli monopoli' -nya yang menghisap rak-yai.

Tengkulak berwatak menghisap rakyat. tidak dcmokratis dan merugikan rakyat.

4. Kapitalis birokrat

Kapitalis birokrat adalah mereka yang menggunakan kedudukan atau jabatan kekuasaan ke-pemerintahan-nya untuk kepentingan usaha perseorangannya. Hidup pokoknya dari penyalahgunaan kedudukan atau jabatan-kekuasaan ke-pemerintahan-nya untuk kepentingan perseorangannya.

Kapitatiis birokrat berkepentingan mempertahankan kedudukan atau jabatan kekuasaan ke-pemerintahan-nya.

Kapitalis birokrat berwatak menindas dan menghisap buruh dan rakvat lainnva. anti demokrasi dan anti rakyat.

II. KLAS-KLAS DAN PEMBAGIAN KLAS DI KOTA

1. Borjuis nasional

Borjuis nasional adalah borjuis industri alau borjuis dagang yang menjalankan modalnya hanya di dalam negeri. Hidup pokoknya bersandar dan bergantung pada modalriya sendiri. Tidak mempunyai atau tidak ada kaitan atau hubungan modal dengan imperialis.

Boriuis nasional berwatak bimbang. Itu karena borjuis nasional sebagai kapitalis, berwatak menghisap dan ami buruh, tetapi juga antL imperialis. ami feoaal dan demokratis. untuk pengembangan modalnya.

2. Borjuis komprador

Borjuis komprador adalah borjuis yang berkomprom' dan oekerja sama denyan imperialis dalam bentuk ka'tan atau hubungan medal dan terutama politik, untuk melakuKan penindasan dan penghisapan terhadap rakyat. Hidup pokoknya bersandar dan bergantung pada imperialis.

Borjuis komprador berkepcntingan bersatu dan bekerp sama dengan imperialis imtuk mempertahankan hidup dan kedudukannya.

Borjuis komprador berwatak anti demokrasi dan anti rakyat. menindas dan menghisap rakvat.

3. Borjuis birokrat (kapitalis birokrat)

Borjuis birokrat atau kapitalis birokrat sebagaimana disebut dalam pembagian klas-klas di desa, adalah pejabat kekuasaan pemerintah borjuis yang menggunakan jabatan dan kekuasaaroiya untuk membentuk kapital dan usaha swasta perseorangannya, "-na melindungi daii mengeir.banskan kapitalnya. Hidupnya bersandar pada jabatan dan kekuasaannya yang disalahgunakannya untuk kepentingan kapital dan usaha perseorangannya. Hubungan kerja-samanya sangat dekai dan erat

dengan imperialis.

Borjuis birokrat atau kapilalis birokrat berkepentingan untuk mempertahankan kedudukan, jabatan dan kekuasaannya dalam pemerintah, bersatu dengan klas-klas penguasa dan penindas lainnya, serta dekat dan erat dengan kaum imperialis

Boriuis birokrat atau kapilalis birokrat berwatak menindas dan menghisap rakyat, anti demokrasi dan anti rakyat.

4. Buruh

Buruh adalah mercka yang bekerja pada orang lain dengan menjual tenaga kcrjanya dalam bentuk menerima upah, dan lidak mcmpunyai apa-apa kecuali tenaga kerjanya. Hidupnya bersandar dau bergantung pada tenaga kerjanya sendiri. Penghasilannya atau upah keijanya tidak cukup untuk kehidupan sekeluarga. Hasil kerjanya tidak bi^a sepenuhnya dimiliki. Sebagian besar dirampas oleh kaum kapitalis.

'Buruh berkepentingan bisa hidup cukup seke'iiarea dan bisa bebas dari oenindasan dan penghisapan.

Buruh berwatak konsekwen anti penindasan dan penghisapan. dan demokratis.

5. Borjuis kecil

Borjuis kecil adalah mereka pemilik kecil perkakas produksi atau alat kerja dan pemilik "modal" kecil sebagai sumber hidupnya. Hidupnya bersandar dan bergantung pada tenaga kerja atau kegiatan usaha sendiri.

Klas borjuis kecil kota berdasarkan fungsi atau kehidupan sosialnya terbagi dalam dua lapis: lapisan atas dan laplsan bawah. Lapisan atas meliputi kaum pekerja merdeka, kaum intelektual dan pegawai pemerintah. Lapisan bawah meliputi kaum miskin kola, pedagang kecil dan produsen kecil.

a. Pekerja merdeka

Pekerja merdeka adalah mereka yang hidup dari kerja jasanya dengan kecakapan dan perkakas kerja miliknya sendiri seperti pengacara/advokat, dokter praktek swasta/partikelir, konsultan dan sebagainya. Hidupnya dari hasil kerja jasanya. Penghasilannya cukup, bahkan bisa lebih dari keperluan hidupnya sekeluarga.

Pekerja mcrdcka berkepcntingan mempcriahankan kcbebasan kerja jasanya dan pemilikannya alas pcrkakas kerjanya.

Pekerja mcrdeka bcrwatak uemokratis.anti ocp.ind?"an dan iuga anti penghjsapan seperti pajak yang tinggi dan sebagainya.

b. Intelektual

Inlelektual ada'iah niereka yang terpelajar atau cerdik pandai seperti sarjana, mahasiswa, dan juga mereka yang sclesai SMA. Mereka bukan pemilik alat produksi. Hidup niereka bersandar atau mengandalkan pada intelektualnya. Mereka berkepentingan akan kerja dan pengembangan.ilmunya. Intelektual berwatak demokratis dan anti penindasan.

c. Pegawai pemerintah (borjuis)

Pegawai pemerintah adalah mereka aparat pelaksana kekuasaan Doli^ik pemerintah. Mereka ada dua golongan: golongan aparat pelaksana biasa, dan golongan aparat pemegang v/ewenang kekuasaan politik.

Berdasarkan fungsinya sebagai ??parat pemerintah borjuis, mereka golongan aparat nclaksana biasa seperti pegawai rendah atau menengah yang tidak punya wewenang politik, adalah klas borjuis kecil karena kehidupan sosialnyajuga tertindas dan penghasilannya pun tidak mencukupi keperluan hidup sekeluarga. Sedang mereka golongan aparat pemegang wewenang kekuasaan politik seperti gubernur, bupati, walikota, camat, kepala desa, dso adalah klai

penindas. Dalam hal ini bagi militer atau kepolisian seperti tamtama, bintara, atau perwira perta.^a yang tidak p'mya wewenang politik, posisinya sama dengar pegawai rendah atau menengah yang tidak punya wewenang politik, adalah borjuis kecil karena kehidupan sosialnya juga tertindas dan penghasilanr.--'? p"I tidak mencukupi untuk keperluan hidupnya sekeluarga. Sedang Pangdam Danrem, Dandim, DonramTi,~Kapolri, Kapolda, Kapolwil, Kapolres, Kapoltabes Kapolsek, dsb adalah klas penindas.

Pegawai pemerinlah golongan klas borjuis kecil, hidupnya bersandar dan bergantung pada kedudukannya scbagai aparat pemerintah. Penghasilannya tidak mencukupi untuk keperluan hidupnya sekeluarga. Mereka berkepentingan akan adanya peningkatan posisi untuk perbaikan hidupnya sekeluarga.

Pegawai pemerintah golongan klas borjuis kecil berwatak bimbang, karena mereka di satu pihak anti pcnindasan, tetapi di pihak lain, mereka berkewajiban melaksanakan penindasan pemerintah borjuis terhadap rakyat. Juga di satu pihak, mereka bukan pemilik alat produksi, tapi di pihak lain, mereka berkewajiban melaksanakan politik pemerintah borjuis untuk melindungi dan menjaga keamanan milik perseorangan atas alat produksi.

Miskin kota

Miskin kota adalah mereka yang hidupnya bersandar dun bergantung terutama pada perkakas kerja dan tenaga kerjanya sendiri septrti tukang ^ol sepatu; tukang jahit lesehan, tukang tambal ban, tukang cukur pinggirjalan, dsb. Penghasilannya tidak cukup untuk hidupnya sckd'^rga. Pedagang kecil

Pedagang kecil adalah mereka yang hidupnya bersandar dan bergantung pada "modal-nya yang kecil da" usaha jualannya seperti pedagang barang rombengan. pedagang barang klitikan, pedagang asongan, dsb. Penghasilannya tidak cukup untuk hidupnya sekeluarga.

Produsen kecil

Produsen kecil adalah mereka yang hidupnya dari membuat produksi kecil-kecilan dengan " modal"-nya yang kecil seperti membuat tempe, membuat kerajinan rumah tangga, dsb. Hidupnya bersandar dan berg,antung pada perkakas kerja miliknya sendiri dengan "modar-nya yang kecil. Penghasilannya antara bisa cukup dan di bawah keperluan hidupnya sekeluarga.

Borjuis kecil kota lapisan bawah berkepentingan mempertahankan dan embangkan miliknya atas alat produksi atau perka'Kas Kerja dan "modar-nya, serta pentingan bisa hidup cukup sekeluarga.

III. KEDUDUKAN KLAS-KLAS Dl INDONESIA

DALAM REVOUISI DEMOKRASI RAKYAT

Masyarakat Indonesia sekarang adalah masyarakat kapitalis dengan sisa-sisa feodalisme dalam ikatan imperialisme. Pemerintahnya di tangan kapitalis birokrai dan borjuis komprador yag melindungi feodalisme.

Masyarakat dan pemcrintah demikian, terlihat dengan terbentangnya ekonomi kapilalis yang sudah mampu melahirkan banyak konglomerai dan borjuis industri, sampai sudah mengembangkan modalnya ke luar negeri. Desa dijamah kapitalisme yang mengeksploitasi sisa-sisa feodalisme. Sistem pemilikan tanah, penindasan dan pnghisapan feodal di bawah kekuasaan tunggal kepala desa, masih berlangsung aman di desa dan digunakan oleh kaum kapitalis.

Bentangan ekonomi kapitalis yang tampak menc.uat meriah menggairahkan, hanya ditapak dan dinikmati selingkup manusia KKN (koputor, kolusionis, nepotis) dan mitranya, para konglomerat dan calo-centengnya. Mereka menari di atas penderitaan rakyat, di kota maupun di desa, dalam jeratan imperialis.

Maka begitu imperialis menarik jeratnya, mereka beijetuhan, menggelepar dan menggeliat. Untuk bangkit, mereka tidak menemukan jalan, kecuali bersimpuh dan mengadah, merunduk dan mengiba, berserah diri di hadapan imperialis untuk turun tangan membimbing dan membinu kembali dunia kapitalisnya. Jelas ke dunia kapitalis yang masih akan tetap, bahkan makin erat dalam kckangan imperialis.

Rakyat menolak dunia itu kembali, dan akan merefonnasinya secara total dengan membangun dunianya sendiri. Dunia yang mampu mengangkat martabat bangsa dan negara, serta kehidupan rakyatnya. Dunia yang berdiri tegak di atas kaki sendiri, lepas dari tali kendali imperialisme. Negara yang demokratis di tangan rakyat, politik dan ekonomi. Suatu negara demokrasi rakyat.

Rakyat berjuang untuk negara itu: Negara Demokrasi Rakyat Indonesia. Negara yang demokratis bagi seluruh rakyat, baik politik maupun ekonomi.

Berjuang menuju ke demokrasi Rakyat, rakyat dan semua golongan demokratis harus bersatu dalam satu front perjuangan bersama dengan suatu program wajah Dcmokrasi Rakyat Indonesia yang jelas, apa yang akan direformasi dan dibangun dalam kehidupan politik, ekonomi dan sosial, di bawah pimpinan yang demokratis, tangguh dan lerpercaya bagi perjuangan rakyal.

Menggalang kekuatan perjuangan bersama, harus jelas arah dan sasarannya. Tepat menetapkan siapa kawan yang harus bersatu sebagai kekuatan pokok, siapa sekutu kekuatan yang perlu ditarik, siapa sahabat yang bisa menjadi kekuatan tambahan, dan siapa musuh yang menjadi sasaran pukul dalam perjuangan bersama. tni sangat penting dan mutlak untuk bisa menggalang kekuatan perjuangan sebesar mungkin dan tangguh, serta tidak banyak musuh.

Sasaran utama perjuangan Demokrasi Rakyat Indonesia adalah:

1. merombak pemerintah kapitalis birokrat dan borjuis komprador yang melindungi sisa-sisa feodalisme dengan membcntuk pemerintah Koalisi Nasional Rakyat anti imperialisme dan feodalisme,

2. membongkar ikatan ekonomi dan politik imperialisme dengan membangun ekonomi nasional rakyat demokratis.

Berangkat menuju ke sasaran utama perjuangan tersebut, berbagai macam klas di Indonesia yang kepentingan dan wataknya saling berbeda, perlu dipilah dan ditentukan kedudukan dan peranannya masing-masing dalam perjuangan untuk Demokrasi Rakyat, sbb:

1. Kapitalis birokrat, borjuis komprador, tuan-tanah, parasit, penguasa penindas, dan bandit desa adalah musuh dan merupakan sasaran pukulan,

2. Tani-kaya adalah netral dan dinetralkan,

3. Borjuis nasional adalah sahabat yang bisa menjadi kekuatan tambahan, dan perlu diajak,

4". T.ani-sedang dan burjuis kecil kota, terutama yang lapisan bawah adalah sekutu yang harus ditarik, 5. Tani-miskin dan buruh-tani adalah sekutu yang terpercaya dan sebagai kekuatan pokok,

6. Buruh adalah kekuatan utama yang paling konsekwen dan tangguh serta terpercaya sebagai pimpinan.

Pemilahan klas terscbut dalam perjuangan Demokrasi Rakyat adalah dasar untuk menggalang kekuatan dan menentukan sasarannya. Pelaksanaannya bisa bertahap, menurut keadaan, waktu dan tempatnya:

1. Sasaran pertania musuh yang harus dipukul adalah yang jahat, yaitu kapitalis birokrat, borjuis kompradol, penguasa jahat, tuan-tanah jahat, dan bandit desa. Penguasa bawahan dan tuan-ianah yang "tidak jahat" serta parasit, diurus kemudian.

Sikap yang demikian itu untuk tidak memperbanyak musuh di dalam proses perjalanan. Kenyataan mcnunjukkan, di dcsa memang ada penguasa dan tuan-tanah yang di mata rakyat tampak tidak jahat karena hubungan sosialnya dekat dengan rakyat, hingga rakyat memandang mereka itu baik, dan rakyat tidak bisa menaerti seandainya mereka sarnpai rr.enjadi sasaran pukulan. Bahkan bisa terjadi, rakyat membela mereka dan bersikap anti pati terhadap perjuangan yang memukul mereka, karena rakyat belum mamp'-i memandang dan berpikir secara klas serta bersikap klas. Rakyat belum sampai pada pengertian tentang kepentingan dan watak suatu klas dan kedudukannya dalam perjuangan. Rakyat baru mampu menangkap gejala lahimya, bahwa mereka itu baik, supel, ramah, peduli, suka menolong, dsb.

Demikian, perjuangan berjalan sesuai dengan apa yang disebut garis massa. Tidak lepas dan tidak bertentangan dengan perasaan dan fikiran massa. Tetapi juga tidak berarti mengekor di belakang massa, karena mereka penguasa dan tuan-tanah yang "tidak jahat" serta parasit, tetap akan diurus kemudian sejalan dengan usaha yang terus akan membuka fikiran dan pengertian massa tentang kepentingan dan watak klas penguasa, tuan-tanah dan parasit, sampai massa akhimya sadar bahwa penguasa, tuan-tanah dan parasit adalah t-cnar merupakan musuh yang menjadi sasaran pukul perjrangan.

Tentang parasit diurus kcmudian, kecuali untuk tidak meinperbanyak musuh dalam proses perjalananJuga karena parasit di desa tidak potcnsial sebagai kekuatan musuh yang menghadang perjuangan. Mereka akan berguguran dan berserah nasib dalam proses lajunya arus perjuangan.

2. Tani-kaya yang dinetralkan, bila dalam proses perjuangan temyata ikut menjadi penghalang, harus ditempatkan sebagai musuh dan merupakan sasaran pukulan.

Tani-kaya murigkin bisa ikut menjadi penghalang perjuangan dan menjadi sasaran pukulan, karena kedudukan sosial tani-kaya cenderung dekat sebagai klas tuan-tanah, dan kehidupannya mudali terlibat dalam kegiatan sebagai klas parasit, liingga mudah bennutasi menjadi klas tuan-tanah.

3. Borjuis nasional yang merupakan klas sahabat dan perlu ditarik, bila temyata sulit atau bahkan menolak untuk ditarik, baik ditinggalkan. Tetapi kalau sampai terjadi mutasi klas, berpindah menjadi klas borjuis komprador atau kapitalis* birokrat, dan bukan lagi sebagai borjuis nasionai, juya harus ditempatkan sebagai musuh dan '"nerupakan sasaran pukulan.

Borjuasi nasional bisa mungkin sekali mutasi klas menjadi klas borjuis komprador atau kapitalis birokrat, demi kepentingan pembesaran dan pemekaran modal dan pasamya.

IV. DASAR PANDANGAN DAN SIKAP TERHADAP KLAS-KLAS DI INDONESIA DALAM REVOLUSI DEMOKRASI RAKYAT

1. Pandangan dan sikap terhadap klas borjuis nasional yang menempatkannya sebagai sahabat uan pcrlu ditarik dalam perjuangan Demokrasi Rakyat, karena:

a. boijuis nasional masih punya perspektif atau perkembangan dan hari depan sampai tingkat revolusi Demokrasi Rakyat,

b. sistem ekonomi Demokrasi Rakyat masih sistem ekonomi borjuis, walau dibatasi oleh kepentingan klas buruh dan klas pekerja lainnya,

c. sistem ekonomi Demokrasi Rakyat yang masih bersifat ekonomi borjuis, masih memeriukan modal dan kecakapan yang dimiliki klas borjuis nasional.

2. Sikap dan langkah tegas menempatkan klas-klas kapitalis birokrat, borjuis komprador, penguasajahat, tuan-tanah jqhat, dan bandit desa sebagai sasaran pukulan pertama, sedang pengua&a dan tuan-tanah "tiadak jahat" serta parasit bisa diurus kcinudiar., karena kekuatan perjuangan supaya bisa dipusatkan dan ditumpahkan untuk memukul langsung musuh utama yang benar-benar aktif melawan dan menghalangi jalannya perjuangan dan revolusi. Dengan begitu kekuatan perjuangan bisa digunakan secara efektif dan praktis, sesuai dengan sifat dan kepentingan

masalahnya yang hams segera dipecahkan dan diatasi.

3. Dalam perjuangan ntuk revolusi Demokrasi Rakyat, semua kekuatan demokratis yang' merupakan kekuatan pokok, sekutu dan sahabat, hendaknya bisa benar-benar dihimpun. Selanjutnya dipelihara, dikembangkan, dan digunakan seefektif dan sepraktis mungkin, sesuai dengan kepentingan yang pokok. dan utama.

4. Dalam perjuangan dan revolusi, harus berusaha dan dapat menghimpun, memelihara, mengembangkan, dan tepat menggunakan kekuatan perjuangan revolusi. Bila hal itu tidak berhasil, perjuangan uan revolusi tentu akan kandas dan gagal. Tidak bisa bi^ra seal kemenangan.

Berhubung dengan itu, penting sekali mengetahui secarajelas ir.asalah kekuatan, kedudukan dan berbagai macam klas di Indonesia dalam perjuangan dan revolusi Demokrasi Rakyat. Dengar begilu supaya objektif dalam menilai, bersikap dan menempatkan klas-klas tersebul sebagai kekuatan pokok, sekutu, sahabat atau lawan.

Hal itu sangat penling karcna rcvolusi adalah salu perjuangan klas dan merupaka puncak dari perjuangan klas. Berarti, masalah revolusi adalah masalah perjuangan klas masalah kontradikai klas. Ilu juga berani, masalah revolusi adalah masalah mengums dan menyelesaikan kontradiksi klas.

Maka dalam perjuangan revolusioner ditekankan, mengetahui secara jelas masalah klas, dan mambaca secara benar kedudukan sosi&l seseorang atau golongan dengan seniua persoalannya, tentang kepentingan, watak, kedudukan dan peranannya dalam perjuangan dan revolusi, adalah sangat penting dan suatu kehanisan, supaya bias secara tepat mengurus dan menyelesaikan kontradiksi klas dan sosial, untuk memenangkan perjuangan dan revolusi. Sebab semua aktivitas dan lindak-langkah seseorang atau golongan selalu berangkat dan tidak lepas dari kepentiiigan dan watak sesuai dengan kedudukan sosial atau klasnya. BS 1976 Rev. 3-8-1982

Kamis, 10 Juni 2010

Pemimpin

Terasa sekali pada saat ini bahwa tdk ada kepemimpinan baik secara nasional, daerah maupun kepemimpinan ummat yang menonjol yang sanggup memberikan inspirasi dan sanggup membakar semangat generasi muda, menjadi penerang di kala kegelapan dan menjadi petunjuk di tengah2 badai. Tak mengherankan jika generasi muda merasakan adanya kekosongon, hanya merasakan irama datar yang tak menimbulkan rangsangan dan kegairahan sama sekali.

Soekarno adalah salah satu contoh pemimpin yang mampu membakar semangat rakyat termasuk generasi muda. Dimana kekuatan rakyat dipusatkan untuk melawan penjajahan atau mendobrak sesuatu yang dianggap musuh bersama. Soekarno lebih tertarik pad aide-ide dasar yang diolah menjadi isu politik yang membakar semangat rakyat, ketimbang mengurusi soal-soal kecil seperti peningkatan produksi, pertumbuhan penduduk, kenaikan pendapatan dan hal-hal sepele lainnya. Model kepemimpinan seperti ini menurut Gus Dur disebut sebagai kepemimpinan “pencipta kesadaran”.

Pola kepemimpinan masa sekarang cenderung kepemimpinan administrative yang tidak begitu tertarik dengan isu-isu hangat, kepemimpinan sekarang lebih cenderung hanya untuk proyeksi-proyeksi masa depan yang dapat di hitung secara matematis dan diyakini akan mampu membawa ke jenjang yang lebih prestisius semisal dengan menjadi calon Bupati, Walikota, Gubernur dan sebagainya, ditambah lagi dengan dukungan financial yang mereka miliki. Kepemimpinan seperti ini merasa tidak perlu membakar semangat rakyat utnuk mencapai tujuan tertentu, cukup setiap anggotanya menjalankan kewajibannya dengan baik. Tentu model kepemimpinan seperti ini sangat terasa hambar bagi kelompok yang krestif dan mematikan bagi kelompok yang dinamis. Seolah-olah setiap orang (bahkan orang bodoh sekalipun) mampu menjadi pemimpin dengan bantuan rencana tehnis dan taktis yang di buat oleh para pembantunya yang disebut teknokrat. Tehnokrasi yg di dukung oleh kepatuhan hirarki dari sisa-sisa feodalisme menghasilkan hilangnya kegairahan generasi muda, karna pada sisem tehnokrasi tekanan di berikan pada penciptaan dan pengembangan cara kerja bersama dalam sebuah program umum, dengan kata lain penumbuhan semangat main bersama. Lebih ironis lagi para pemimpin-pemimpin muda kita terjebak dalam pola kepemimpinan seperti ini.

Mungkinkah Negara di desain sedemikian rupa hanya untuk menciptakan model kepemimpinan seperti ini? Apalagi jika kita lihat di tingkatan pemimpin-pemimpin daerah seperti Bupati, Walikota, Gubernur, maupun pemimpin-pemimpin ormas, LSM, partai politik sejak tahun 90 an hingga sekarang belum mampu melahirkan sosok kepemimpinan “pencipta kesadaran”. Semua kekuatan-kekuatan ormas, tokoh masyarakat maupun partai politik mudah di moderasi oleh kekuatan Negara dan koorporasi, meski ada situasi perlawanan di tengah-tengah masyarakat. Sikap Negara dari pusat hinggga daerah-daerah terlihat setengah hati dalam menyelesaikan masalah, ketika terjadi konflik antara masyarakat dengan koorporasi. Negara yang seharusnya membela kepentingan rakyat malah sering hanya menjadi mediator. Hal ini yang disebut oleh Boni Hargens sebagai perzinaan politik antara Negara dan koorporasi.

Harapan kita tentu dalam pilkada yang akan dating mampu melahirkan sosok pemimpin “pencipta kesadaran” bukan pemimpin yang lahir dari sebuah perzinaan politik yang selama ini terjadi.

Senin, 07 Desember 2009

Dan Punggawa-punggawa itupun Terhanyut

5 Th Pemerintahan SBY - JK, sepertinya tenang, semua terkendali di bawah sang Jenderal. Bagaikan air mengalir dengan tenang tapi ternyata menyimpan kubangan air yang setiap saat mampu menghanyutkan para pungawa-punggawa negeri ini.

Berawal dari kasus pembunuhan Nazrudin Zulkarnain yang melibatkan Pungawa KPK Antarasari Azhar yang kemudian Polisi menemukan rekaman antara Antasari dengan Anggodo yang mengatakan bahwa sejumlah Pungawa KPK menerima suap darinya. mulailah babak baru perselisihan Polisi, Kejaksaan VS KPK. Rekaman hasil sadapan KPK terhadap pembicaraan Anggoro kepada sejumlah punggawa Polri dan Kejaksaan mampu membuat masayarakat luas sakit hati dan bersimpati terhadap Pungawa-pungawa KPK. babak ini pun menghayutkan pungawa Polri Susno Djuadji dan Pungawa Kejaksaan AH Ritonga yang dicopot dari jabatannya.

Bak Rantai yang saling bersambung, kasus Bank Century ada benang merah dengan kasus pereteruan KPK, Polri dan Kejaksaan. siapa yang bakal terhanyut dalam babak ini? mengingat beberapa pungawa negeri telah disebut2 menerima aliran dana Bank century

Jumat, 16 Oktober 2009

Catatan Jalanan anak Negeri

Pesta demokrasi dari Pileg sampai Pilpres telah usai, masyarakat kembali pada kehidupan semula, pembicaraan di warung-warung kopi, dipinggir-pinggir jalan sudah tak terdengar lagi, kini semua terfokus pada segelintir elite yang masih sibuk melakukan lobi-lobi politik guna menempatkan kader-kadernya ke dalam lembaga-lembaga Negara baik di legislative maupun eksekutif, mereka yang dulu mengambil sikap berseberangan dengan SBY dalam Pilpres kini melunak dan ada yang berbalik mendukung presiden terpilih itu, situasi ini tentu dimanfaatkan oleh SBY guna stabilitas pemerintahan 5 th mendatang dengan mendukung salah satu kader PDIP untuk menduduki posisi sebagai ketua MPR, dukungan ini tentunya ada konsesi-konsesi politik tertentu.
Golkar tidak mau kalah dengan PDIP. Dalam Munas Golkar di Pekanbaru beberapa waktu lalu, ketua umum terpilih Aburizal Bakrie dengan tegas mengatakan Golkar akan menjadi mitra bagi pemerintahan yang akan datang, maka tidak heran jika kemudian Golkar juga akan menempatkan kader di kabinet SBY yang akan datang. Posisi Gerindera dan Hanura kurang signifikan dalam Parlement sehingga bisa di prediksi mereka akan menunggu tanpa mengambil sikap apapun.
Mereka yang dulu berlawanan secara politik dengan SBY, dengan jargon-jargon kampanyenya misalnya ekonomi kerakyatan, anti neoliberalisme dsb itu berfikiran pragmatis dengan mengorbankan program-programnya dengan dalih untuk kepentingan bangsa dan Negara, kini mereka hidup dalam satu komando sang jenderal. Kiranya seperti banyak pengamat mengatakan inilah satu-satunya Negara demokrasi yang mendapat dukungan 90% kursi di parlement. Pandangan seperti ini mirip bagaikan film2 action di bioskop-bioskop maupun di televise, aktornya Cuma satu, dua orang selebihnya mereka akan mati di tumpas oleh sang actor. Kita tidak bisa mengharapkan lagi parlement untuk mengontrol pemerintahan, semua akan berjalan mulus tanpa kerikil-kerikil yang akan menghalangi hingga 5 th ke depan.
Kekuatan Parlement sudah dilumpuhkan oleh sang jenderal, masih adakah harapan bagi rakyat pada ibu pertiwi ini, sementara element-element masyarakat yang selama ini mampu membawa titik awal perubahan bangsa ini juga tak berdaya yaitu:

1. Mahasiswa dan pemuda

Sejarah bangsa ini telah menorehkan tinta emas terhadap pemuda dan mahasiswa, sebagai agen pembaharuan negeri ini, disaat para elite di parlement terhegemoni oleh kekuasaan, mereka selalu tampil jadi garda terdepan dalam melawan otoritarianisme kekuasaan, apa yang bisa kita harapkan dari mahasiswa sekarang, jika kita menyaksikan di televise maupun Koran yang ada hanya tawuran antar mahasiswa, pesta miras dan narkoba, tontonannya pun sinetron-sinetron dan film-film romantis yang sadar atau tidak telah membius mereka, sebagian mereka ada yang mengikuti audisi-audis untuk menjadi bintang di televise. Kondisi ini adalah realitas sekarang. Realitas ini ditengarahi sebagai formulasi konvensional atas keterjangkitan idealisme mahasiswa yang mengalami dekadensi, realitas kesakitan yang dialami mahasiswa, realitas yang membutuhkan titik kesadaran awal untuk melakukan akselerasi atas idealisme mahasiswa

2. Eks Aktifis MAhasiswa ‘98

Mereka adalah para mahasiswa yang turun ke jalan untuk menumbangkan kediktatoran orde baru, ternyata mereka juga sama dengan para seniornya -para mantan aktifis mahasiswa sebelumnya-. Mereka berbondong-bondong masuk ke partai-partai politik, LSM pendukung kepentingan kekuasaan, teriakan revolusi yang dulu mereka teriakan kini telah terselimuti oleh jas mewah dengan menjadi anggota DPR, menjadi Tim sukses, yang pada akhirnya nanti akan mengetuk pintu kekuasaan untuk mendapatkan bagian dari kekuasaan tersebut. Mereka yang dulu di culik, di tembaki, dipukul, kini melebur jadi satu dengan orang yang menculik, menembaki, serta memukuli mereka dalam satu partai politik, ormas sekaligus bersatu dalama lingkaran kekuasaan. Adapula yang masih bertahan dengan ideology kerakyatannya, akan tetapi mereka tidak mampu mempertahankan keutuhan dalam menghadapi panggung politik yang bernama Pemilu

3. Gerakan Buruh

Dalam sejarah bangsa ini, gerakan buruh telah mengalami kemajuan yang cukup signisikan, meski belum ada gerakan buruh yang mampu menumbangkan kediktatoran di negeri ini, namun beberapa aktifitas gerakan buruh sudah mengarah ke hal-hal yang bersifat politis. Misalnya ada beberapa organisasi buruh yang terlibat dalam pendirian partai politik yang didasarkan pada kesadaran bahwa untuk mensejahterakan buruh harus merebut kekuasaan, atau dalam tahapan demokartisasi bisa bercermin dalam kasus Korea selatan, dimana mayoritas buruh disana melakukan pemogokan massal yang menuntut kesejahteraan mereka beberapa tahun lalu.

Senin, 31 Agustus 2009

TERORISME: GEJALA SOSIAL ATAU ANCAMAN NEOLIBERALISME?

Oleh Shohibul Badri

“Banyak orang berpendapat perang antara komunisme dengan barat akan segera digantikan oleh perang antara barat dengan muslim” William PFAFF, The New Yorker, 28 Januari 1991.

Teroris pada akhir-akhir ini menjadi momok yang sangat menakutkan dan bisa datang kapan saja, disamping militansi para pelaku, juga kepiawaian mereka dalam segala hal, polisi pun mampu dikecohnya, seperti kasus di temanggung yang hanya mampu menewaskan Ibrohim. Dalam beberapa tayangan video dan sasaran bom, jelas mereka tidak semata-semata menyerang dengan membabi buta. Sasaran mereka adalah hal-hal yang berhubungan dengan Amerika, Australia dan sekutu-sekutunya yang dikenal dengan Negara-negara neoliberal.

Stigma teroris yang dilekatkan pada Noordin M TOP dan kawan-kawannya tidak lebih dari upaya Amerika dan sekutu-sekutunya untuk terus menancapkan pengaruhnya di seluruh dunia, termasuk Indonesia. (Tulisan ini tidak bermaksud membela atau membenarkan tindakan-tindakan mereka yang telah mengorbankan jiwa orang-orang yang tidak bersalah). Saya lebih sepakat disebut sebagi “fundamentalisme Islam”, karena “Fundamentalisme Islam” seringkali dianggap sebagai ancaman terbesar bagi kepentingan-kepentingan barat di dunia islam yang lebih luas, serta sering disejajarkan dengan aktifitas politik, ekstremisme, fanatisme, terorisme dan anti Amerikanisme, walaupun sebagian terlibat dalam relegio-politik radikal. Pasca runtuhnya komunisme, tidak ada lagi kekuatan yang menjadi balance bagi kekuatan kapitalisme barat. Jika para pemimpin barat berusaha membentuk tata dunia baru (pasca perang dingin), islam fundamentalism semakin dianggap sebagai musuh monolitik global barat yang baru. Para pembuat kebijakan Amerika, seperti media massa juga kerap ternyata sangat picik, memandang dunia islam dan gerakan-gerakannya sebagai monolitik dan semata-mata dalam istilah ekstremisme dan terorisme. Stigma islam teroris yang di lekatkan barat ini sudah ada sejak tahun 1970-an, Revolusi Iran di bawah pimpinan khumeini sangat mengecam dan mengutuk barat, Qaddafi di Libya, munculnya gerakan-gerakan islam diberbagai Negara sering kali bersitegang dengan komunitas internasional dan dianggap sebagai Negara teroris yang radikal. Sampai pada puncaknya pasca serangan 11 September yang membangkitkan semangat untuk memberangus kekuatan islam radikal yang berujung pada invasi AS ke Saddam Husein di Iraq dan Osama Bin Laden di Afghanistan, karena kedua Negara ini menjadi symbol Negara islam yang menentang barat.

Perlawanan di Irak terjadi tak kurang tiga puluh kejadian setiap hari. Intensifnya perlawanan pejuang militan di Irak terhadap okupasi AS selama beberapa bulan terakhir ini, oleh berbagai pejabat AS dinyatakan sebagai ‘perang sipil’, yang baru memanas antara milisi syiah dan pemberontak sunni. bahwa 74% rakyat Syiah dan 91% Sunni menginginkan semua pasukan AS meninggalkan negeri mereka dalam satu tahun. Perlawanan di Afganishtan. NATO sedang putus asa menangani penambahan pasukan seiring dengan kegagalan mereka menangani berbagai pemberontakan di bagian selatan dan tenggara negeri itu. Kemarahan rakyat juga berkisar seputar dana dan pembangunan infrastruktur yang dijanjikan gagal diwujudkan, termasuk meluasnya korupsi dan represifitas para pimpinan militer dan tuan-tuan tanah (pemilik perkebunan obat-obatan/cocaine) yang sebagian besar bekerjasama dengan menjadi boneka AS. Ditambah lagi mobilisasi besar-besaran rakyat Iran melawan ancaman blokade AS terhadap program nuklir mereka, bahkan, dukungan terhadap program nuklir (untuk perdamaian) mengalir dari mayoritas negeri anggota non-Blok pasca KTT di Havana, termasuk dua anggota dewan keamanan PBB Rusia dan China. Kampanye AS melawan program nuklir Iran adalah kemunafikan AS yang berikutnya. AS malah menjual teknologi nuklirnya kepada negeri-negeri yang belum menandatangani Nuclear Non-Proliferation Treaty—seperti India, Pakistan dan Israel

Dalam konteks di Indonesia pasca Bom bunuh diri yang terjadi 17 juli 2009 di Hotel JW Marriot dan Ritz Chalton, polisi dengan cepat dapat mengindentifikasi pelaku-pelaku serta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Disatu sisi kita beri apresiasi buat Densus 88 yang bekerja keras dalam mengungkap kejadian tersebut, terlebih lagi penggagalan serangan bom yang rencananya akan diledakkan di kediaman pribadi SBY, jika polisi mampu mengantisipasi dan menggagalkan serangan bom ke kediaman pribadi presiden, pertanyaannya sederhana kenapa polisi tidak mampu menggagalkan bom di JW Marriot dan Ritz Chalton?. Di sisi lain kenapa selalu ada korban salah tangkap terhadap orang-orang yang tidak terlibat, meskipun pada akhirnya dibebaskan dan di beri rehabilitasi nama baik, hal itu menunjukkan kurang profesionalnya polisi dalam bekerja, ditambah lagi upaya pengawasan terhadap dakwah-dakwah islam, penghakiman terhadap perempuan bercadar dan pria berjenggot, singkatnya vonis terhadap aliran islam tertentu sebagai sarang teroris.

Apakah gerakan teroris ini merupakan gejala sosial dan politik atau ancaman bagi Neoliberalism? Jika kita lihat latar belakang kelas mereka (para pelaku bom bunuh diri) sangat jelas menunjukkan bahwa tindakan kekerasan aktual atas nama Islam bukanlah konsekwensi langsung dari doktrin-doktrin keagamaan radikal, namun lebih disebabkan oleh faktor sosial yang dapat memberi kecenderungan orang-orang tertentu untuk mengambil sikap militan. Beberapa faktor sosial yang relevan dapat ditemukan dengan menggunakan pendekatan sosiologis –misalnya latar belakang kelas mereka (kelas menengah mereka), ambruknya keluarga tradisional, sebagai akibat proses transisi menuju masyarakat industrial, dan mobilitas yang meningkat serta masuknya banyak perempuan ke lapangan kerja, juga merupakan faktor penting yang menyebabkan adanya kerinduan nostalgik akan nilai-nilai keluarga dan mendorong usaha-usaha militan untuk memberlakukannya kembali.

Pada tahun 1980 dan 1982 Saad Eddin Ibrahim di American University of Cairo telah melakukan penelitian terhadap munculnya gerakan-gerakan radikal yang mengatasnamakan agama bahwa ”Profil sosial kaum militan islam ini sangat serupa dengan mereka yang bergabung dalam gerakan kiri radikal” Polarisasi ekonomi yang terpusat pada segelintir orang di era Neoliberalisme seperrti ini adalah salah satu faktor yang menyebabkan munculnya gerakan-gerakan yang menempuh cara-cara kekerasan dengan Islam sebagai legitimasinya. Kekerasan itu juga dilakukan di negara-negara yang menjadi boneka negara-negara Neoliberalisme. Dari sini dapat dianalisis sebagai gerakan protes politik yang memilih wacana islam dalam menyuarakan sebuah protes yang pada dasarnya bersifat politik. Karena tindakan mereka di Indonesia disebabkan mereka juga menilai kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan SBY sangat menguntungkan AS dan sekutu-sekutunya. Pemerintahan SBY tak mampu menahan laju serangan neoliberalisme, penjualan blok-blok tambang, privatisasi perusahan-perusahan negara, sistem out-shoursing, penguasaan pasar dll terus berjalan. Begitu juga dengan jeratan hutang luar negeri yang terus menggrogoti keuangan negara lancar keluar dari APBN. neoliberalisme betul-betul mendapatkan kebutuhan-kebutuhan pokoknya di negeri ini. Sentimen anti neoliberalisme (terutama Amerika) sudah semakin kuat, meskipun solusi yang mereka berikan bukan berdasarkan kesadaran programatik, tetapi sentimen keagamaan dan memiliki garis politik anti parlemen dalam perjuangannya

Dalam sejarah Gereja di dunia barat, sekte-sekte radikal sering berfungsi sebagai hati nurani ummat, dan hal demikian juga dapat dilihat dalam umat Islam. Gerakan teroris dengan berbagai macam alasan mereka dalam melakukan tindakan-tindakan kekerasan mendorong ortodoksi untuk setiap saat memikirkan kembali relevansi ajaran agama dalam masyarakat kontemporer dan untuk mencari jawaban atas masalah dan tantangan baru yang terus bermunculan dan tentunya tanpa jalan kekerasan.