Senin, 31 Agustus 2009

TERORISME: GEJALA SOSIAL ATAU ANCAMAN NEOLIBERALISME?

Oleh Shohibul Badri

“Banyak orang berpendapat perang antara komunisme dengan barat akan segera digantikan oleh perang antara barat dengan muslim” William PFAFF, The New Yorker, 28 Januari 1991.

Teroris pada akhir-akhir ini menjadi momok yang sangat menakutkan dan bisa datang kapan saja, disamping militansi para pelaku, juga kepiawaian mereka dalam segala hal, polisi pun mampu dikecohnya, seperti kasus di temanggung yang hanya mampu menewaskan Ibrohim. Dalam beberapa tayangan video dan sasaran bom, jelas mereka tidak semata-semata menyerang dengan membabi buta. Sasaran mereka adalah hal-hal yang berhubungan dengan Amerika, Australia dan sekutu-sekutunya yang dikenal dengan Negara-negara neoliberal.

Stigma teroris yang dilekatkan pada Noordin M TOP dan kawan-kawannya tidak lebih dari upaya Amerika dan sekutu-sekutunya untuk terus menancapkan pengaruhnya di seluruh dunia, termasuk Indonesia. (Tulisan ini tidak bermaksud membela atau membenarkan tindakan-tindakan mereka yang telah mengorbankan jiwa orang-orang yang tidak bersalah). Saya lebih sepakat disebut sebagi “fundamentalisme Islam”, karena “Fundamentalisme Islam” seringkali dianggap sebagai ancaman terbesar bagi kepentingan-kepentingan barat di dunia islam yang lebih luas, serta sering disejajarkan dengan aktifitas politik, ekstremisme, fanatisme, terorisme dan anti Amerikanisme, walaupun sebagian terlibat dalam relegio-politik radikal. Pasca runtuhnya komunisme, tidak ada lagi kekuatan yang menjadi balance bagi kekuatan kapitalisme barat. Jika para pemimpin barat berusaha membentuk tata dunia baru (pasca perang dingin), islam fundamentalism semakin dianggap sebagai musuh monolitik global barat yang baru. Para pembuat kebijakan Amerika, seperti media massa juga kerap ternyata sangat picik, memandang dunia islam dan gerakan-gerakannya sebagai monolitik dan semata-mata dalam istilah ekstremisme dan terorisme. Stigma islam teroris yang di lekatkan barat ini sudah ada sejak tahun 1970-an, Revolusi Iran di bawah pimpinan khumeini sangat mengecam dan mengutuk barat, Qaddafi di Libya, munculnya gerakan-gerakan islam diberbagai Negara sering kali bersitegang dengan komunitas internasional dan dianggap sebagai Negara teroris yang radikal. Sampai pada puncaknya pasca serangan 11 September yang membangkitkan semangat untuk memberangus kekuatan islam radikal yang berujung pada invasi AS ke Saddam Husein di Iraq dan Osama Bin Laden di Afghanistan, karena kedua Negara ini menjadi symbol Negara islam yang menentang barat.

Perlawanan di Irak terjadi tak kurang tiga puluh kejadian setiap hari. Intensifnya perlawanan pejuang militan di Irak terhadap okupasi AS selama beberapa bulan terakhir ini, oleh berbagai pejabat AS dinyatakan sebagai ‘perang sipil’, yang baru memanas antara milisi syiah dan pemberontak sunni. bahwa 74% rakyat Syiah dan 91% Sunni menginginkan semua pasukan AS meninggalkan negeri mereka dalam satu tahun. Perlawanan di Afganishtan. NATO sedang putus asa menangani penambahan pasukan seiring dengan kegagalan mereka menangani berbagai pemberontakan di bagian selatan dan tenggara negeri itu. Kemarahan rakyat juga berkisar seputar dana dan pembangunan infrastruktur yang dijanjikan gagal diwujudkan, termasuk meluasnya korupsi dan represifitas para pimpinan militer dan tuan-tuan tanah (pemilik perkebunan obat-obatan/cocaine) yang sebagian besar bekerjasama dengan menjadi boneka AS. Ditambah lagi mobilisasi besar-besaran rakyat Iran melawan ancaman blokade AS terhadap program nuklir mereka, bahkan, dukungan terhadap program nuklir (untuk perdamaian) mengalir dari mayoritas negeri anggota non-Blok pasca KTT di Havana, termasuk dua anggota dewan keamanan PBB Rusia dan China. Kampanye AS melawan program nuklir Iran adalah kemunafikan AS yang berikutnya. AS malah menjual teknologi nuklirnya kepada negeri-negeri yang belum menandatangani Nuclear Non-Proliferation Treaty—seperti India, Pakistan dan Israel

Dalam konteks di Indonesia pasca Bom bunuh diri yang terjadi 17 juli 2009 di Hotel JW Marriot dan Ritz Chalton, polisi dengan cepat dapat mengindentifikasi pelaku-pelaku serta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Disatu sisi kita beri apresiasi buat Densus 88 yang bekerja keras dalam mengungkap kejadian tersebut, terlebih lagi penggagalan serangan bom yang rencananya akan diledakkan di kediaman pribadi SBY, jika polisi mampu mengantisipasi dan menggagalkan serangan bom ke kediaman pribadi presiden, pertanyaannya sederhana kenapa polisi tidak mampu menggagalkan bom di JW Marriot dan Ritz Chalton?. Di sisi lain kenapa selalu ada korban salah tangkap terhadap orang-orang yang tidak terlibat, meskipun pada akhirnya dibebaskan dan di beri rehabilitasi nama baik, hal itu menunjukkan kurang profesionalnya polisi dalam bekerja, ditambah lagi upaya pengawasan terhadap dakwah-dakwah islam, penghakiman terhadap perempuan bercadar dan pria berjenggot, singkatnya vonis terhadap aliran islam tertentu sebagai sarang teroris.

Apakah gerakan teroris ini merupakan gejala sosial dan politik atau ancaman bagi Neoliberalism? Jika kita lihat latar belakang kelas mereka (para pelaku bom bunuh diri) sangat jelas menunjukkan bahwa tindakan kekerasan aktual atas nama Islam bukanlah konsekwensi langsung dari doktrin-doktrin keagamaan radikal, namun lebih disebabkan oleh faktor sosial yang dapat memberi kecenderungan orang-orang tertentu untuk mengambil sikap militan. Beberapa faktor sosial yang relevan dapat ditemukan dengan menggunakan pendekatan sosiologis –misalnya latar belakang kelas mereka (kelas menengah mereka), ambruknya keluarga tradisional, sebagai akibat proses transisi menuju masyarakat industrial, dan mobilitas yang meningkat serta masuknya banyak perempuan ke lapangan kerja, juga merupakan faktor penting yang menyebabkan adanya kerinduan nostalgik akan nilai-nilai keluarga dan mendorong usaha-usaha militan untuk memberlakukannya kembali.

Pada tahun 1980 dan 1982 Saad Eddin Ibrahim di American University of Cairo telah melakukan penelitian terhadap munculnya gerakan-gerakan radikal yang mengatasnamakan agama bahwa ”Profil sosial kaum militan islam ini sangat serupa dengan mereka yang bergabung dalam gerakan kiri radikal” Polarisasi ekonomi yang terpusat pada segelintir orang di era Neoliberalisme seperrti ini adalah salah satu faktor yang menyebabkan munculnya gerakan-gerakan yang menempuh cara-cara kekerasan dengan Islam sebagai legitimasinya. Kekerasan itu juga dilakukan di negara-negara yang menjadi boneka negara-negara Neoliberalisme. Dari sini dapat dianalisis sebagai gerakan protes politik yang memilih wacana islam dalam menyuarakan sebuah protes yang pada dasarnya bersifat politik. Karena tindakan mereka di Indonesia disebabkan mereka juga menilai kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan SBY sangat menguntungkan AS dan sekutu-sekutunya. Pemerintahan SBY tak mampu menahan laju serangan neoliberalisme, penjualan blok-blok tambang, privatisasi perusahan-perusahan negara, sistem out-shoursing, penguasaan pasar dll terus berjalan. Begitu juga dengan jeratan hutang luar negeri yang terus menggrogoti keuangan negara lancar keluar dari APBN. neoliberalisme betul-betul mendapatkan kebutuhan-kebutuhan pokoknya di negeri ini. Sentimen anti neoliberalisme (terutama Amerika) sudah semakin kuat, meskipun solusi yang mereka berikan bukan berdasarkan kesadaran programatik, tetapi sentimen keagamaan dan memiliki garis politik anti parlemen dalam perjuangannya

Dalam sejarah Gereja di dunia barat, sekte-sekte radikal sering berfungsi sebagai hati nurani ummat, dan hal demikian juga dapat dilihat dalam umat Islam. Gerakan teroris dengan berbagai macam alasan mereka dalam melakukan tindakan-tindakan kekerasan mendorong ortodoksi untuk setiap saat memikirkan kembali relevansi ajaran agama dalam masyarakat kontemporer dan untuk mencari jawaban atas masalah dan tantangan baru yang terus bermunculan dan tentunya tanpa jalan kekerasan.

1 komentar:

  1. salam singgah dari malaysia.tulisan yang menarik.terima kasih kerana singgah & jadi follower blog saya.

    moga kamu sukses!

    BalasHapus